Salam hangat pembaca,maaf sebelumnya,jika tulisanku jauh dari sempurna,mohon saran kritiknya ya.
Pak karmin,..
Pagi itu tak ada yang istimewa,namun sentuhan embun pagi membasahi atap hatinya,gugah semangat yang terpapar dalam mimpi,di dini fajar,saat ia terbius letih,saat lelap menebus lelah,impi itu datang,ilhami langkahnya,temukan sejatinya hidup,seorang lelaki tua,dahinya dipenuhi guratan2,lukisan perjuangannya dulu,pak Karmin,ya,sebutan dimana tempat ia bermukim,sebuah bangunan milik pribumi di Jakarta,lumayan,berukuran 3m persegi,lebih dari cukup baginya,menjaga dari terik hujan,layaknya istana,tempat ia singgah,hempaskan penat,usir kelelahan,RP.400 ribu,kocek yang ia kais dari sebuah kaleng,tempat menyimpan buah keringatnya,sebatang kara ia hidup,setelah pendaping hidupnya pergi,menjauh dari dunianya,tak tahan atas puruk hidupnya,hanya sendiri berjuang,bertahan dari kejam dunia,menjadi penjual hiasan dari sampah bekas air minum.
Sedasa sudah ia berduel di arena laga,habiskan sisa usia di tepian kota Jakarta,singkat cerita,dulu ia makmur,hidup di ranah kelahirannya,keluarga terpecah karena sodara tua gagahi warisan moyangnya,berjalan tak berarah,tak bertuju,menyisir tiap sudut gang,laksana air mencari celah untuk mengalir,tak berujung,tak terhitung lorong yang ia lewati,serak karena suaranya terkuras,tawarkan barang buah tangannya,bersenyum berucap sapa tak henti ia lontarkan pada tiap sosok yang disua,pantang menyerah mengakar di dirinya.
Genggamnya erat,kuat gendong di bahunya sebuah kantung besar berisi aneka hiasan rumah,meski tak mewah,raganya tak selegam,tak sekokoh dulu,sekarang kurus terbungkus tipis ari,tak jarang ia menggopoh kelelahan,siang menerik,tumbuhkan bulir keringat di dada,di pelipis jua cucuran keringat itu mengalir,menjadi saksi gigih juangnya,ketika matahari sejajar,tak munculkan bayangan,ia berhenti di sebuah rumah ibadah,dalam simpuh ia berdoa,penopang kerja kerasnya,sejenak pula ia mengatur nafasnya,memulihkan adanya,mengisi lambungnya,karena dari semenjak pagi hanya segelas air putih saja menjadi kekuatan,di sebuah gubuk,bermenukan ala warteg langganannya,seolah tak mau buang waktu,bergegas ia melangkah,mengingatdalam sakunya tak banyak pundi rupiah yang ia raup,menjelang mentari condongkan diri,kembali berhenti,berteduh sambil kipaskan penutup kepala,rautnya berkaca,keringatnya bagai diperah,angannya jauh melayang,huft.. andai saja peri bersayap itu datang,hadirkan sejuta keberuntungan,tak perlu berpayah diri,mengais rizki,namun ia sadar itu takkan didapatnya,dengan keringat sedikit mengering,ia bangkit,lanjutkan perjuangan hari ini,seraya mengumpulkan gelas plastik,sampah dari bekas air minum atau sejenisnya,berangkat dari ide kreatifnya,menjadikan sampah itu bernilai,meski tak banyak yang butukannya tapi pak Karmin yakin akan tekadnya.
Aku tak mengerti,serenta itu masih berjuang untuk dirinya sendiri,saat ini yang mungkin ia dapati adalah limpahan kasih sayang dari buah hati atau sang pendamping setia,namun ia harus menelan pahit kenyataan,dibalik semua itu pak Karmin tak mau pusing,Tuhan kan tunjukkan hikmah yang masih tersembunyi...
Saya sendiri kurang faham makna apa yang sebetulnya terkandung,hanya saya ingin berbagi cerita tentang apa yang saya lihat.
Sabtu, 28 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar