Selasa, 22 Desember 2009

Sisihkan Rasa Terisih

ciut
kecut beringsut
hati ini kecil
terkucil
menjadi kaum tersisih
risih
bila mereka terlalu jauh mendekat
tak ada untukku pentas
menyita pandang mereka agar puas
menatapku hanya dengan mata sebelah terpejam
aku,tak ubahnya ilalang ringkih
di rinai basah bukit
menguning karena terik
usang sebelum tergunakan
aku,jelata biasa
layaknya ras sudra dahulu kala
hidup di sisian tertepi
mengusung aroma matahari
beralaskan telanjang kaki untuk berdiri
menyesal,tidak…
Tuhan adil,
beri hidup padaku
pada mereka pula
Dia menimbang
berapa besar bobotku
dengan mereka yang konon hidup nian mewah
hidupku hanya untukNya
bukan atas peduli mereka…

Minggu, 29 November 2009

beslah

dan bintang itu makin berkilau
bak kejora di hamparan angkasa
tak ada yang alihkan pandangku kini
layaknya ksatria yang dengan perkasa merasuk ke tiap jengkal tubuhku
kendati berkelit
mengelak,tetap tak terhindar
mungkin Tuhan di atas sana menulis merah raporku
karna telah fikirkanmu
yang dunia tahu kau miliknya
meski belum sepenuhnya
sanksi apa entah kudapat!
kecemasan acap datang merambah hati
bertanya2 tentangmu
mungkin terlalu dini hakimi diri
memvonis bila asa itu telah hilang
maaf bila adaku jadi benalu hidupmu.

bangkit

dalam lemah kutersadar
tak guna jika trus berdiam dalam kapar
menunggu hingga musuh lengah
pecundang bukan sejatinya ksatria
harusnya ku disana
di tengah arena laga
rasai sengitnya palagan
akan tetapi
bekalku tak banyak
hanya tekad bersangkur doa
itu yang membuat nyanaku meragu
kini bilaku kalah kutlah siap dengan segenap kebesaran hati....

hari

embun pagi yang biasanya ramah menyapaku
kini membakar hati
bimbang meragu selimuti damai hati
kemana gebu semangatku...!!!
yang slalu meng-elukan harap
hilang
hanyut terbawa nuansa hati
saat kelelahan tak terbayar dilelapku
waktu mimpi indah menjauh dari dunia tidurku
maka kebutaan yang halangiku berpandang
semoga di siang nanti hilang terimbas sinar mentari.

sebelum jauh..

sebelum jauh kemelangkah,
sebelum jejakku terhapus tiup angin,
sebelum waktu lenyapkanku dari pandangmu,
sebelum sayap terbangkanku keangkasa luas,
kuingin kau tahu,
kuslalu mengindahkanmu,
meninggikanmu,
tak peduli kubakal tersungkur,
dan semoga ketulusanlah yang mempayungi prasaanku...

bukan siapa

semua mata menatapku curiga,
ketika kuhampiri seorang putri nan rupawan,
besit hati ingin milikinya,
tapi mungkin kehendakku terbentur dinding,
karena aku bukan pangeran,
bukan rama yang selamatkan sinta dari rahwana,
juga bukan romeo yang berkorban untuk juliet,
aku 'wong cilik' yang jauh dari kesempurnaan,
slalu jadi alas kaki sang raja,
aku berlebih bila menginginkannya.

melaju

jernihkan fikiran dari tangisan masa lalu yang hitam,
itu hanya mimpi buruk dalam lelap,
tapaki sejarah baru dalam hidup,
buang aneka keraguan,
tak usah banyak berharap,
karna tak jarang meleset dari kenyataan,
sekarang hidupku mengalir,
merendah meninggi,
kadang deras menghujan,
kadang lamban lalui gundukkan,
yang pasti melangkah menuju arah,
jemput kesuksesan yang di damba.

doaku

ku meminta kepada Tuhan,
berdoa,
mohon,
bukan untuk kemenanganku,
tak adil bilaku meminta bantuanNya,
atas apa yang kuhadapi,
aku hanya memohon agar ku tak menangis tuk kekalahanku,
tak menangis atas harap yang kosong,
tak menangis bila keberuntungan tak berpihak padaku,
tak menangis andai kepedihan yang kudapati,
aku akan menangis jika haru kebahagian kugapai lewati gerbang perjuangan....

menari

tarianku tak selaras dengan dendangan irama waktu,
ritmenya memacu langkah,
laguku yang terlantun tak senada dengannya,
mungkin terlalu sumbang bersuara,
atau terlalu minor bernada,
kapan harus berhenti,
melamban bermelodi,
berapa ketuk harus mengalun,
tak mengerti,
hanya mencoba iringi simfoni hidup,
agar indah saat terdengar,
bawa hembus kesejukkan bagi yang gundah,
bawa suka bagi yang lara..

Sabtu, 28 November 2009

Sekoci

Sebuah sekoci,
tanpa mesin tuk percepat laju
tak bertiang untuk kepakkan layar,
tak pula berjangkar guna bersandar,
hanya sampan sebagai tongkat,
menahan sepakkan gelombang,
tak terlihat dari mercusuar,
tak ada perlabuhan membuka hati untuk menepi,
matahari sebagai panduan temukan arah,
namun bersinar hanya sesaat,
pelupuk senja menguburnya dalam diam,
dalam gulita malam,
tak ada yang beri terang,
percuma saja bila kunyalakan lilin,
padam terhempas angin laut yang bertiup,
perompak,badai,batukarang tak segan mengancam,
hanya sapa embun pagi basahi nurani,
bangkitkan gairah hati,
kehendak temui pulau yang ramah,
pelipur lara yang dirasa,
kicauan burung camar,
juntaian dahan pohon kelapa,
lembayung cakrawala,
memercik asa,
kobarkan semangat...

ilalang ringkih

Masih di sini,
di rinai alam,bertemani putri malu,
dan rumput teki,
berbagi gelisah,
berbagi gelak tawa,
berkaitan,berpeluk damai,
ilalang ringkih,
hanya akar serabut,
jagaku dari tiup beliung,
namun tak jangkau endapan hujan yang mendasar di bumi,
gerimis yang jatuh,
seolah terpesan para penguasa,
apa guna tuk hapus haus,
surya menerik buatku menguning,
berjalan tertatih,
merintih karena letih,
angin kencang mengoyak hati yang diam,
tak tahu kapanku disingkir dari lapang bertanah merah ini,
berganti istana yang untungkan mereka,

mengharap embun pagi yang basah,
segarkan jiwa yang lelah,
awan putih berarak payungiku dari sengat surya,
ilalang yang ringkih....

Pak Karmin..

Salam hangat pembaca,maaf sebelumnya,jika tulisanku jauh dari sempurna,mohon saran kritiknya ya.

Pak karmin,..
Pagi itu tak ada yang istimewa,namun sentuhan embun pagi membasahi atap hatinya,gugah semangat yang terpapar dalam mimpi,di dini fajar,saat ia terbius letih,saat lelap menebus lelah,impi itu datang,ilhami langkahnya,temukan sejatinya hidup,seorang lelaki tua,dahinya dipenuhi guratan2,lukisan perjuangannya dulu,pak Karmin,ya,sebutan dimana tempat ia bermukim,sebuah bangunan milik pribumi di Jakarta,lumayan,berukuran 3m persegi,lebih dari cukup baginya,menjaga dari terik hujan,layaknya istana,tempat ia singgah,hempaskan penat,usir kelelahan,RP.400 ribu,kocek yang ia kais dari sebuah kaleng,tempat menyimpan buah keringatnya,sebatang kara ia hidup,setelah pendaping hidupnya pergi,menjauh dari dunianya,tak tahan atas puruk hidupnya,hanya sendiri berjuang,bertahan dari kejam dunia,menjadi penjual hiasan dari sampah bekas air minum.
Sedasa sudah ia berduel di arena laga,habiskan sisa usia di tepian kota Jakarta,singkat cerita,dulu ia makmur,hidup di ranah kelahirannya,keluarga terpecah karena sodara tua gagahi warisan moyangnya,berjalan tak berarah,tak bertuju,menyisir tiap sudut gang,laksana air mencari celah untuk mengalir,tak berujung,tak terhitung lorong yang ia lewati,serak karena suaranya terkuras,tawarkan barang buah tangannya,bersenyum berucap sapa tak henti ia lontarkan pada tiap sosok yang disua,pantang menyerah mengakar di dirinya.
Genggamnya erat,kuat gendong di bahunya sebuah kantung besar berisi aneka hiasan rumah,meski tak mewah,raganya tak selegam,tak sekokoh dulu,sekarang kurus terbungkus tipis ari,tak jarang ia menggopoh kelelahan,siang menerik,tumbuhkan bulir keringat di dada,di pelipis jua cucuran keringat itu mengalir,menjadi saksi gigih juangnya,ketika matahari sejajar,tak munculkan bayangan,ia berhenti di sebuah rumah ibadah,dalam simpuh ia berdoa,penopang kerja kerasnya,sejenak pula ia mengatur nafasnya,memulihkan adanya,mengisi lambungnya,karena dari semenjak pagi hanya segelas air putih saja menjadi kekuatan,di sebuah gubuk,bermenukan ala warteg langganannya,seolah tak mau buang waktu,bergegas ia melangkah,mengingatdalam sakunya tak banyak pundi rupiah yang ia raup,menjelang mentari condongkan diri,kembali berhenti,berteduh sambil kipaskan penutup kepala,rautnya berkaca,keringatnya bagai diperah,angannya jauh melayang,huft.. andai saja peri bersayap itu datang,hadirkan sejuta keberuntungan,tak perlu berpayah diri,mengais rizki,namun ia sadar itu takkan didapatnya,dengan keringat sedikit mengering,ia bangkit,lanjutkan perjuangan hari ini,seraya mengumpulkan gelas plastik,sampah dari bekas air minum atau sejenisnya,berangkat dari ide kreatifnya,menjadikan sampah itu bernilai,meski tak banyak yang butukannya tapi pak Karmin yakin akan tekadnya.
Aku tak mengerti,serenta itu masih berjuang untuk dirinya sendiri,saat ini yang mungkin ia dapati adalah limpahan kasih sayang dari buah hati atau sang pendamping setia,namun ia harus menelan pahit kenyataan,dibalik semua itu pak Karmin tak mau pusing,Tuhan kan tunjukkan hikmah yang masih tersembunyi...

Saya sendiri kurang faham makna apa yang sebetulnya terkandung,hanya saya ingin berbagi cerita tentang apa yang saya lihat.

Kamis, 12 November 2009

lepas,bebas

raut kalbuku tak muram,
selepas ku jauhkan hidupku dari jerat cintamu,
kurasa cukup kau rajam dengan semua tindakmu,
kau biarkan api ini menyala namun tak kau jaga,
dari topan beliung,
terlambat,lubang yang kau gali cukup dalam,
hingga kuburkanku dalam gulita,
meski bernanah luka ini,
namun tak sesal kumengenalmu,
karena sebuah benang merah beri kontras pada helai kain yang kusulam,
hikmah ini buat tegar pijakku,
menggapai secercah harap yang selalu terpapar di mimpiku...

Rabu, 11 November 2009

luka hati

terhunus tajam sikapmu,
goreskan luka mendalam,
di kedalaman perasaan kutemukan jasad hati ini,
terbujur kaku,
terbenam dalam sumur kepalsuan,
hingga surya tampak temaram,
kau bunga yang harum di kejauhan,
namun dalam hatimu hanya gelap,
dan madumu lemahkan langkahku,
kau genapi buram kisahku....